Tampilkan postingan dengan label Zombie.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zombie.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

Dua Dunia

Sudah sejak lama saya menyadari bahwa kita punya cukup banyak perbedaan dunia. Saya tidak tahu bagaimana membuat sebuah paragraph pembuka untuk tulisan ini. Tapi kalimat di atas jelas mewakilinya.

Saya bukanlah orang yang pandai bersosialisasi meskipun senang turut aktif di dunia maya; sosial media. Ketika terjun langsung ke dalam sosial, saya merasa asing dan tidak tahu harus apa, bersikap apa, bicara apa, menggunakan manner yang mana, dsb. Maka dari itu, saya agak benci bersosialisai. Menurut saya, bersosialisasi hanya ajang pura-pura. Banyak pura-puranya -_- Entahlah, itu masih opini awal saja, masih bisa berubah seiring tulisan ini berlanjut.

Saya sering merasa iri pada orang-orang yang pandai dan piawai bersosialisasi. Hidup terlihat mudah. Relasi di mana-mana, tidak perlu malu, terampil dalam berkomunikasi dengan berbeda orang, dsb. Saya hanyalah anak kecil gadis ingusan yang merasa cukup dengan kesendirian dan lingkaran kecil kehidupan sosialnya.

Saya iri padamu. Iya, kamu, K. Kamu sangat piawai bicara dan bersikap di depan berbeda orang. Meski demikian, di belakang mereka kamu selalu bicarakan hal yang sangat tidak saya sangka dari sikapmu menghadapi mereka. See, bersosialisasi hanya ajang pura-pura. Dibutuhkan kepiawaian.

Sejauh ini saya sudah mencoba beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi saya. Mencoba bergabung dalam organisasi dan ekstrakulikuler di sekolah dan kampus. Hasilnya, yah, saya punya lebih banyak pengalaman dari sebelum-sebelumnya. Saya juga kenal lebih banyak orang dari sebelumnya. Tapi saya belum bisa menaklukkan diri saya yang menyukai kesendirian dan kontemplasi, berpikir tentang banyak hal; bercumbu dengan imajinasi yang tak pernah berbatas.

Terima kasih, kamu pun sudah turut ikut memperkenalkan saya pada duniamu yang penuh dengan orang-orang. Tapi, tetap saja, jika saya tidak merasa nyaman, saya tidak bisa diam. Saya rasa, kita memang berbeda dalam hal itu.

Mengingat kembai masa SMA, saya mengikuti 3 kegiatan; Pramuka, OSIS, dan Paskib. Ketiganya saya ikuti atas dasar keingintahuan dan menantang diri untuk lebih berani. Tapi sayang, saya tidak bisa bertahan sampai lulus dalam ketiganya. Saya hengkang dari Paskib setelah latgab pertama yang sangat melelahkan, fisik saya tidak mau disiksa. Saya perlahan meninggalkan OSIS di kelas  XI. OSIS mulai menjemukan sejak awal, tapi saya memaksakan diri saja karena masih penasaran dengan kinerja kerjanya. Ah, terlalu banyak orang yang cari muka, menurut saya. Not my style. Dan Pramuka, saya tidak ingat kapan saya meninggalkan ekskul kesukaan saya itu. Di Pramuka, saya banyak mendapat apa yang ingin saya alami; kemah misalnya.

Tentu saja, dalam setiap organisasi, setiap tahunnya kita pasti punya “adik”. Kemudian ketika lulus, kita akan menjadi alumni dan punya banyak “adik”, ditegur dan dikenal. Saya menginginkan hal itu. Tapi saya tahu bahwa saya bukan orang yang bisa betah berlama-lama bersikap manis dan sebagainya. Jadi, saya tidak tahu apakah status saya sebagai alumni dan diingat oleh “adik-adik” itu tercapai atau tidak. Setidaknya, saya punya bekas ingatan bahwa saya pernah menjadi “kakak” bagi mereka.

Rekam jejak saya dalam mengikuti organisasi tidak  bisa dibilang bagus atau keren. Hal tersebut karena… bagaimana menjabarkannya, ya? Saya tidak berbakat dalam urusan bersosialisasi.

Berbeda dengan kamu. Kamu sangat suka bersosialisasi, terjun mengurusi urusan kemanusiaan, ikut organisasi besar dan terlibat dengan banyak jenis manusia, berinteraksi dengan mereka menggunakan seribu topengmu. Sebenarnya saya benci melihat itu. Alasanmu, pelarian. Entahlah. Saya iri tetapi saya benci.

Lebih mudah rasanya berada di luar lingkaran sosial dan berfokus pada diri dan dunia sendiri. Membentuk sosial sendiri. Tapi tentu, diciptakan sebagai makhluk sosial, saya harus bersosialisasi. Dan saya sangat pemilih. Sayangnya saya bukan air yang bisa nyaman dalam wadah berbagai bentuk.

Kata orang, hidup itu dimulai ketika kita meninggalkan zona nyaman kita. Saya berpikir, kenapa? Toh dalam zona nyaman itu sendiri banyak tantangan. Ataukah persepsi dan interpretasi saya yang masih terlalu sempit?

Dunia kita sungguh terasa berbeda jika berbicara mengenai hal itu, K. Saya benar-benar terganggu dengan urusan dan kesibukanmu dalam dunia itu. Awalnya, saya merasa egois karena tidak suka bersosialisasi. Tapi sekarang saya malah berpikir bahwa mereka yang egois, menyita waktu seseorang. Ya, mereka, organisasi kesayanganmu dengan orang-orang yang sering kamu kritik itu. Saya tidak mengerti kenapa kamu memaksakan diri bertahan jika kamu sering merasa jengah. Bukankah hidup ini soal pilihan di mana kamu bisa memilih untuk hengkang saja? Entahlah, dunia kita berbeda.

Suatu masa, ketika saya sedang merasa nyaman dengan organisasi kampus yang saya geluti, kamu merasa jengah dan marah-marah sampai menyuruh saya berhenti. Tapi saya suka! Tapi kamu tidak suka! Mungkin otak saya yang terlalu fleksibel ini mudah saja dirasuki sugestimu itu, sampai akhirnya saya vakum. Sudah tidak ada lagi kegiatan yang menjadi sainganmu dalam menghabiskan waktu saya. Clear.

Sekarang, saya mau menuntut ganti rugi, timbal balik, upah, bayaran, atau apa lagi namanya atas waktumu! Kamu. Sibuk dengan urusanmu, duniamu, organisasimu. Haruskah sekarang saya hengkang dari dirimu? Ya, membuat saya jengah. Menunggu seperti orang bodoh tak ada kerjaan, mengharap kabar yang tak pernah datang, menunggu telepon yang tak juga berdering, menunggu waktumu, semenit saja, untuk berbincang kecil. Tidakkah kamu paham? :D

Mencoba ikuti duniamua termasuk juga usaha saya dalam menyembuhkan anti-sosial saya. Tapi nyatanya, sama saja. Hanya membuat sakit hati dan lelah. Seperti kegiatan-kegiatan lainnya yang pada akhirnya saya tinggalkan karena perasaan tidak nyaman dan lelah akan kepura-puraan, haruskah? Haruskah kamu menjadi hal berikutnya yang harus saya tinggalkan? Lalu kemudian saya berfokus pada dunia saya, di mana hanya ada saya, imajinasi yang sedang tidur pajang, dan mimpi-mimpi yang tak kunjung tergapai.

K, dunia saya dan duniamu adalah dua hal yang berbeda. Pada titik ini, sosial. Saya tidak bisa mengerti akan waktumu yang habis tersita oleh kegiatan organisasi karena saya bukan lagi orang organisasi (karena kamu). Dulu, ketika saya masih menjadi orang organisasi, saya masih bisa kok menyisihkan waktu untuk kamu. Saya sungguh bertanya-tanya dengan serius, mengapa bisa dari 24 jam itu tidak ada 1 menit pun untuk saya, sementara  saya bisa menyisihkan lebih dari 1 menit untukmu.

Jawablah; apakah duniamu adalah hal selanjutnya yang harus saya tinggalkan?


Jumat, 29 Januari 2016

Cerita 27 ke-29

Hai. Setelah beberapa bulan tidak pernah muncul kisah di sini, hari ini muncul juga. Ada cerita tentang beberapa hari yang lalu dan beberapa keping memori.

Pada 27 yang ke-29, kami break. Bukan break-up. Hanya rehat dari urusan yang mengikat hati. Kami sepakat. Awalnya saya yang ingin mengajukan tawaran serupa, tapi tak tega. Akhirnya dia yang berucap duluan. Dan kami sepakat. Saya merasa dia butuh waktu untuk “hidup”. Dan dia merasa saya masih punya urusan yang belum selesai, jadi saya harus menyelesaikannya. Demikian, kami sepakat untuk rehat sejenak. Kata dia, perihal nanti akan lanjut atau tidak, dia akan tidak mengapa. Saya hanya mengiyakan saja karena belum bisa memberikan jawaban yang jelas pasti. Tapi satu yang pasti, saya mesti menyelesaikan apa yang belum selesai.

Bermula dari sebuah mimpi. Saya bukanlah tipikal orang yang sering bermimpi bunga tidur. Kalaupun bunga tidur, paling jarang-jarang. Tapi mimpi yang satu itu seperti punya jatah sendiri untuk datang, setidaknya menurut kesimpulan sementara saya. Mimpi dengan dasar yang sama, pola yang sama, dan berkala. Apa mau dikata? Terkadang saja saya memilih mimpi, tapi pada akhirnya mimpi itu mengatur dirinya sendiri –atau alam bawah sadar saya yang menggila.

Dan mimpi itu datang lagi. Dia. Muncul di mimpi itu dengan seragamnya. Mimpi saya hitam-putih bak layar televisi jaman kapan. Berdiri dengan jarak beberapa meter saja, yang penting masih bisa memantau saya yang sedang bercengkrama dengan teman-teman sejawat. Berdiri memantau, mengawasi, dan menunggu. Hampir selalu seperti itu pada setiap mimpi yang ada.

Saya ingin bercerita pada dia, bukan dia. Saya ingin tanpa rahasia dengannya, tapi tak tega. Saya tahu kisah tentang dia tentu akan membuat dia merasa panas dan sekuat energi menahan diri dari gejolak api cemburu yang lekas membara. Alih-alih menjaga perasaannya, ternyata saya malah seperti memberinya luka dengan silet tumpul. Ketika saya bercerita, setelah kami sepakat rehat, dia bilang sayang sekali baru diceritakan sekarang. Tak taunya dia sudah tau. Dan rasanya seperti memakan kue jatah dia lalu pura-pura tak tau, tapi ternyata dia sudah tau. Tidak enak! Dan serba salah.

Dalam masa rehat, kami sepakat untuk tidak terlalu sentimental terhadap hal-hal yang biasanya membuat cemburu atau sakit hati. Istilah saya sih netral. Jadi, jujur-jujuran saja. Memang dasar tak enakan, dia pun sungkan bilang perasannya walau tetap dikatakan juga.

Baru berjalan dua hari ditambah hari ini. Hati saya rasanya melambung mengikuti angin saja, seperti kapas yang terbang terlepas dari buah kapuk yang masih menggantung di pohon. Belum ada yang terlihat pasti, semua masih kabur, sekabur penglihatan saya tanpa bantuan kacamata. Ada harapan yang sudah bulat bersamanya, tapi bulatan itu belum akhir-bertemu-awal hingga terasa belum bisa dibilang bulat. Entahlah. Susah sekali menjelaskan bagaimana harapan ini ingin bersama dia. Hati berkata ingin, tapi rupa-rupanya hati saya mengidap bipolar, yang satunya lagi berkata ingin bersama dia. Sebagai satu raga satu kepala, saya hanya bisa penasaran dengan sistem semesta ini. Tak sabar untuk besok, pun belum siap.

Semoga masa rehat ini benar-benar menjernihkan semua. Semoga saya mampu menyelesaikan yang belum selesai ini. Dan semoga semua yang belum jelas menjadi jelas sekali.

Salam,
Adik kecil yang selalu membutuhkan Abangnya.

PS: tulisan ini mungkin sangat egois, tapi mau bagaimana? Saya tidak bisa membaca pikirannya dan –nya. Sekedar curhatan belaka supaya rehat ini agak melegakan hati (yang bipolar).

Jumat, 27 November 2015

Pada 27 ke-27

Hai, Partner! Menyenangkan sekali bisa punya partner seperti kamu. Sekarang, kalau baca novel dan meneliti karakteristik tokoh lelakinya, selalu ingatan kembali ke kamu. Ya, apakah semua yang pernah saya angan-angankan ketika membaca novel sekarang menjadi nyata? Jadi, tiap membaca novel roman rasanya basi. Fiksi yang seperti itu sudah menjadi nyata dalam hidup saya sejauh ini.

Mari saya biarkan memori ini memutar balik apa yang terjadi selama dua-puluh-delapan bulan…

Ah, kita tidak senormal pasangan lain, ya! Dan kita selalu merasa bangga akan hal itu. Yah, meskipun kamu sering menuntut hal-hal “normal” seperti yang lain, tapi tentu saya tidak senormal perempuan lain. Ha ha ha. Apakah saya juga sering menuntut hal “normal”? Apakah kamu menurutinya? Hmm… Kalau saja iya, itu artinya jiwa menjadikan fiksi sebagai nyata saya ternyata masih kuat. Seperti anak kecil.

Secara harfiah maupun istilah, bukannya kita memang berbeda? :p

Sepertinya angan-angan saya pada peringatan yang ke-28 ini masih sama –atau berbeda– entahlah. Saya hanya ingin menaruh kepercayaan padamu dan jangan kamu coba-coba untuk merusaknya. Sedikit demi sedikit kamu mendapatkan bagian dari hati saya. Saya harap kamu melakukan yang terbaik saat ini untuk ke depannya. Perjalanan kita masih panjang, kan? Doakan saya supaya terus bisa mengimbangi  langkah kakimu yang, kamu tahu, terkadang terlalu cepat atau kadang juga sangat lambat. Jangan tinggalkan saya dalam jalan setapak yang gelap, pun jangan biarkan saya berjalan sendiri meski ada bulan purnama. Apalah artinya bulan purnama kalau udara dingin menggigit? Bukankah lebih hangat kalau kita jalan bersisian?

Napak tilas dua-puluh-delapan bulan. Banyak hal yang terjadi. Mungkin seperti tali yang dijalin, semakin lama, akan semakin kuat. Kitakah seperti tali yang dijalin itu?

Hai, Partner! Senang sekali saya bahwa ada seseorang yang dengan keras kepalanya –tak kalah keras kepala dengan saya ini– bersikukuh untuk bertahan melakukan petualang  dengan saya. Saya sadar sekali bahwa saya tidak sempurna, banyak hal yang belum bisa saya lakukan, bahkan hal sederhana pun belum sempurna bagi saya. But, I’m glad to know that you can love me as I am and willing to wait for me, the best of me. Thank you.

What I am going to say? Not much, thank you for being my partner for this far. I can be as moist as a cheese cake, but also I can be as rough as diamond. But, however I am, you will still love the same, won’t you?

So, keep stand by my side and let’s be partner forever! Xoxo

Sabtu, 15 Agustus 2015

Hari Bersamanya~

Hadiah ulang tahun yang terlambat. Bukan sebuah kesalahan besar.

Terpisah jarak selama hampir dua bulan ternyata membawa efek yang agak bagus. Nyatanya, saya bisa jatuh cinta juga. Akhirnya setelah hampir dua tahun lamanya. Saya lupa bagaimana memperlakukan orang yang saya sayangi, tapi rasanya dengan dia saya tidak perlu repot-repot. Meskipun kita ada tipe orang yang sama sekali berbeda. 

Dia kemaren bertutur bahwa sungguh aneh bahwa dia bisa jatuh cinta pada orang seperti saya. Dia, ingin sekali dimanja, disayang-sayang, dan ditunjukkan bagaimana kasih sayang dalam tindakan. Tapi saya sama sekali kebalikannya. Ketika saya jatuh cinta kemudian menyayangi seseoranng, saya lebih suka tidak melisankannya, tidak menunjukkannya secara frontal, cukup seperti dalam diam saja. Tapi apa mau dikata, pada akhirnya dialah yang melakukan hal-hal yang dia inginkan. Dan saya, saya menyayanginya dengan cara saya yang diam.

Saya diam terkadang saya malu jika harus mengumbar-umbar kata cinta sementara ujung perjalanan belum terlihat. Jalani sebagaimana adanya saja. Tapi ketika ingin menyampaikan sesuatu, saya menuliskannya, lalu memberinya untuk dibaca. Lambat laun (mungkin) kita terbiasa dengan ritme seperti itu.

Dia pernah mengeluhkan mengapa saya seringkali membuatnya terbang namun sejurus kemudian menghentaknya ke tanah. Saya sering menjawab tidak tahu. Sekarang saya hampir menemukan jawabannya karena saya memikirkannya terus-menerus. 

Mungkin saya seperti itu karena saya tidak mau memberi harapan berlebih, harapan yang cukup saja. Bukankah lebih sakit sebuah harapan kosong? Nah, selain itu juga... mungkin ini akan membuat dia melayang terbang, saya selalu menjatuhkannya ke tanah lagi karena saya tak ingin dia melayang. Kalau dia melayang, dengan siapa saya berpijak? Dengan siapa saya berjalan bersisian? Siapa yang menggandeng tangan saya? Dengan siapa saya akan memandang langit bertabur bintang? 

Katanya dia akan merantau lagi. Ah, padahal belum sampai sebulan kita di pulau yang sama. Kalau dulu dia ingin pergi, saya tidak merasa sedih atau apa. Tapi rupanya sekarang hati saya memang sudah berubah, saya bisa merasa sedih. Bahkan hanya memikirkan sebuah ketidakpastian akan kepergiannya pun membuat nafsu makan saya luntur (atau karena masih kenyang?).

Buku-buku. Mungkin selain dengan makanan, buku-buku adalah hal yang akan bisa membuat saya merasa lebih disayang. Sebagai seseorang yang cukup suka membaca, diberikan buku rasanya sangat bahagia. Dan ketika seseorang yang menyayangi kita memberikan hal yang bisa membuat kita bahagia rasanya seperti disayang sepenuhnya. Karena apa? Karena hal seperti itu seperti dia mau membaur dengan hidup kita meski hidupnya sungguh tidak sama sekali berhubungan dengan hal yang membuat kita bahagia. Tapi bukankah melihat orang yang kita sayang bahagia sudah membuat kita pun cukup bahagia? 

Selang sehari kita bertemu. Dibilang sengaja, iya. Dibilang memaksakan, juga iya. Dibilang  kebetulan, bisa juga. Yang jelas, pertemuan kita harus selalu berkualitas. Di zaman ini rasanya kuantitas tak ada harganya, hanya kualitas yang dijunjung tinggi. Begitu juga dengan pertemuan kita. Meskipun tak sering -juga tak jarang- tapi sebisa mungkin setiap pertemuan kita buat berkualitas, bukan? 

Dalam setiap pertemuan rasanya seperti saya punya banyak hal untuk dikatakan dan dibahas. Tapi yang terjadi adalah saya hanya bertukar cerita ringan yang sering kali tidak penting. Kemudian, rasanya kalau bertemu itu hanya ingin memuaskan diri menatap dia saja. Rindu tidak butuh kata. Rindu saya, butuh dia. 

Bicara soal rindu, bagaimana mekanisme rindu itu? Dia selalu mengucap rindu padahal baru saja bertemu. Dia selalu mengucap rindu, kadang tanpa memikirkan saya yang juga memang rindu tapi lebih memilih diam. Ya, kita berbeda. Saya akan mengira-ngira. Mungkin rindu adalah perasaan yang datang ketika kita usai bertemu, ketika kita sudah lama tak bersua, ketika kita menginginkan pertemuan. Semua benar, bukan? Tapi saya heran, mengapa saya bisa merasa rindu bahkan ketika sedang duduk di hadapannya? Ketika bersamanya dan memikirkan dia akan jauh lagi pun sudah membuat bakal rindu.

Banyak hadiah yang dia berikan untuk saya, tapi sebaliknya. Mungkin hadiah saya untuknya hanya tulisan-tulisan tentang perasaan saya yang sungguh sukar saya lisankan di hadapannya. Jangankan di depannya, di depan-Nya pun sungguh sulit mengatakan keinginan saya. Bukankah Dia selalu tau apa yang dibatinkan setiap hamba-Nya? Setidaknya, begitulah yang saya pikir.

-Pada sore yang sejuk, penuh rindu.

Senin, 10 Agustus 2015

Pesan dari Ego

Setelah membaca tulisan sebelum ini ada Ego yang berbisik. Dia menyampaikan cerita. Ego bilang kemarin Hati datang menemuinya untuk bercerita. Hati berkata pada Ego untuk membantunya menyelesaikan tugas. Namun Ego sempat bertanya beberapa kali sebelum akhirnya Hati menjelaskan bahwa tugas Ego adalah membatu Hati untuk didengar oleh sosok yang diharapkannya agar bisa diperlakukan layaknya hati dengan sepenuhnya, karena Hati bercerita bahwa anggapannya, "Jika sosok itu bisa menerima Hati yang sebelumnya dengan lapang, kenapa tidak dengan saya? Apa yang membedakan saya dengan Hati yang lain?"

Sebelum pergi, Ego sempat berbisik pelan... "Sampaikan maaf pada Cinta karena aku sering menghalanginya sehingga muncul Benci mengambil tempatnya."

Salam,
Zombie.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Aku Bisa Mencintaimu Melalui Lagu

Tertanggal 26 Juli 2015

Tulisan ini mungkin akan membuatmu sedikit merasa sakit hati, tapi percayalah, aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin mencoba sedikit demi sedikit membuatmu melihat diriku sebagaimana aku. Mungkin aku aneh, tapi kurasa kamu bisa menerimanya.

Rasanya hidupku akan sepi dan tidak berperasaan tanpa musik. Sehari saja tidak memanjakan kuping dengan satu-dua lagu, rasanya hidup seperti datar-datar saja.

Dengan jarak yang memisahkan kita, dan waktu yang sedikit untuk kita, jujur saja, saya merasa kesal dan ingin putus saja. Boleh dibilang saya cepat menyerah, apalagi dalam hubungan. Sebelumnya juga begitu (hati saya mulai cenat-cenut untuk memutar memori lama), putus karena tak ada waktu untuk  bertukar kabar. Saya sakit hati ditinggal-tinggal, terlebih itu membuat saya menunggu hal yang tak pasti kapan datangnya. Kabar darimu itu, saya tidak tahu kapan akan tiba.

Saya selalu benci menunggu. Menunggu membuat saya seperti orang yang tak punya kerjaan sehingga masih punya waktu untuk menunggu orang lain. Tapi sayangnya saya tidak bisa membuat orang lain untuk tidak menunggu saya. Maafkan saya membuat kamu sering menunggu, bahkan hingga detik kamu membaca kalimat ini punkamu masih menunggu, kan? Menunggu di depan pintu hati saya sampai kamu dipersilakan masuk.

Saya memang benci menunggu, tapi saya lebih benci pada diri saya yang kerap melakukan sebuah penantian. Lelah. Bosan. Kesal. Jika ada kata yang maknanya berkenaan dengan ketiga kata itu, maka itu juga yang saya rasakan. Saya mulai lelah mengatur emosi; kapan harus tidak kesal, kapan harus lega, kapan harus simpati, kapan harus merasa ini dan itu. Meski begitu, toh saya tetap menunggu kabar darimu yang memang selalu terlambat datang. Saya sungguh merasa seperti orang bodoh karena menunggu, karena melakukan hal yang saya benci.


Minggu, 19 Juli 2015

Invisible!

#1: The Invisible You

Now I'm talking about you. Yes, you're the one invisible before you came. I did not even know you. But then you came along and tried to get closer and know me more. Before the time brought you to me to see, I had never seen you. Yes, you're invisible because I was looking at someone else and was focus only on him no matter what's going on. You just came like a candle in the dark, like a moon in the night. In the previous, you're just the light on the bright and the star in the day, invisible. All I saw was him, and never been you. Eventually, you came around and tried to be seen. You brought the dark so that I could see your light. You brought the night so I could see your silver shine. It was never easy, though, but you've never given up even until this day, the day I wrote this post, the day you read this post. Am I wrong? Tell me if I was wrong, correct me.

You're the invisible one. It's gonna take a super long time for me to see you. Even it's almost two years, I could still barely to look at you that clear. It is often blurry for me. But, as you did, I don't want give up this soon. Day by day I try to convince myself and heart that it is possible to fall in love with you. At once or twice or thrice, I really felt that kind of feeling and was totally sure about what I feel. But then, it disappears. What a shame. But to think of losing you, of separating from you, or of not connected to you makes me desperate. Is that what they call love? 

All this time, for the very first time I knew you, I always think and treat you as my best friend. More and more, as my brother. It is so hard to place you as my lover, as what is happening. Should I do an apologize for this? Well, sorry. The core that I can tell you is when I'm around you, I feel like sheltered and warm. Is that what they call love?

I know, I'm never bored to write this kind of stuff. It is just because I want you to know my progress in process to love you. As the same question you always ask, slowly I'll let you find the answer by yourself by this writing because I could not always give you any direct or quick answer because me myself don't even know the answer surely yet. I hope you'll understand (again) this time.

For me, you're just still a little bit more invisible. Let us let the time to do its job. If you're my destiny, we'll see the ending that I will be able to see you clearly as you are, not be within the shadow of anyone else.

#2: The Invisible Love

Everybody knows that love is invisible. It only can be felt. I also know it, so you do, right? But here I talk about the real invisibility of love. I feel it, but I could barely 'see' it. You know, people sometimes feel like they could 'see' it, but I don't at all. Do you? Whether it is shown by action of giving something or treating well on someone. I see those kind of thing, but I do not 'see' the love along with those. Let me simplify this route of writing... I mean, love is really invisible, at least now for me.

I know we both know that you often do many simple sweet things for me, or give me some unpredictable (and sometimes predictable) simple sweet stuffs. In some moments, I could feel the feeling that you tried to show or deliver by those gifts. Unluckily, I often felt like flat when you did those. I know that I should apologize you for this. But, trust me, I felt happy and I do. I feel that your feeling is true and real. The simpler thing that you give, the more affection I feel. Because the simpler you give, the more you care.

We can not touch the love, but we can fall into it, even we sink into it. How does love look like? Is it as what people draw? It is truly red or pink?

There are so many things that I can not figure out about love. There are so many perspectives about love. There are so many kinds of love. There are so many ways to show your love to someone. For me, love is still invisible to see.

I'm not sure how to explain about this invisibility, but I always think that you understand my meaning. Nobody will understand the love between us, but we do know it very well. People may see that the relationship between us is a bit strange or abnormal. You always say, that maybe people act normally as they think so that what we do is abnormal. The reversal is, what we do is normal and what they do is out of normal because the normality of nowadays is actually exaggerate. Please, correct me about you words!

Maybe (I'm listening to Not A Bad Thing by Justin Timberlake) it's not such a bad thing to fall in love with you. All of the weirdness, the abnormality, the difference, and the undefinable love between us, that people will hardly understand, are the colours of our love. So, love is not only about red and pink, right? Still, love is invisible. Even though so, we believe that love still stand between us. My question is, "Will the love still stand between us 'til the end of time?"

#3: The Invisible Distance

As we know together, since a month ago, we're separated by the distance. You said it'd be two weeks, then a month, at last it would be more than a month. It was hard at first, but we know we can pass this period of distance. As a human, we should be able to adapt with a new situation. Slowly but sure, we're gonna get it as a common thing. Day by day, the quality time we have to share is getting less. I think, from the little time we have, the more we feel the distance. The far distance feels like close. The distance of our bodies is far, but the distance of our souls is close. As close as the good night text, or as the love words you say before I fall asleep.

Distance. People could measure the distance between the position of me and you. But no one could measure the distance we have of our heart. Invisible.

The invisible distance we have makes people hard to identify how close we are. Sometimes we seem like the strangers meet each other, but in the other time we may seem like each other's half part of soul. Sometimes the distance between us is as close as the upper and bottom lips meet together. At the another sometimes, the distance between us is as far as the Sun to the Pluto. At least, that's all what I feel. How about you? Have you ever felt the invisible distance separates us that far or close? 

This is strange but is the reality. I've ever felt the very far distance with you when we're so close together. I didn't really know, maybe it was just because of my thought was going somewhere at that time. It might be also because of the heart of mine could not accept yours at that time. Yes, there was a time when I have to close my heart for you and it would still be like that for a long time. When it happened, I know that you're suffering to act as normal as possible. In the reality, you're hurt. But, at that time I did not have any idea of what to do. Thank you for understanding me :)

The distance. Now it separates us, the time is also joining it. As the time passed by, you know, everything's gonna feel normal with every new thing. The time flies away so fast! Every night runs somehow, leaving the time for us just a little while, like a glance! Your text is in, wuzz, it's already midnight and I gotta sleep! You stay up late waiting for the morning to come, waiting for me to wake up, send me a good morning text, and everything should happen in hurry. Everyday feels like that. Everyday for this month. Everyday along the distance between us. But the love keeps the distance between us being meaningless.

It is magic! Distance. We both know we are separated by the distance, but there's an invisible distance that makes us stick together, that makes us feel we're side by side. I tell you I miss you this way. No matter how far the distance, no matter how long the time left, I'm waiting for your coming home. Soon. You know, you feel it, the distance tortures you. It makes you sick of missing me, right? :p Okay, all we need is just a little patience, my Zombie :)

###
Every invisible thing above came from a refrain that I had ever sung on the way got home. 
~ The invisible you,
the invisible love,
the distance is invisible between me and you...
I fall in love by the blind eyes to see the invisible you.
I feel the love by the blind heart to identify the invisible love.~

Invisible. Describe me more things by that word, please... All seems invisible for me. Help me to see those things clearly. We would make every step ahead together, I want to see what you see too. 

Kamis, 09 Juli 2015

Percakapan Pagi Ini

Sebangun sahur pukul 03.24 WITA, saya mengulet sebentar sebelum mengumpulkan seluruh kesadaran untuk bangkit dari kasur. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengecek keadaan seseorang di seberang dua pulau sana dengan menghubungi nomor handphonenya. "Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Silakan mencoba beberapa saat lagi." ternyata si mbak operator memberitahukan bahwa dia masih terjaga. Setelah itu, saya membeli paket SMS (iya, masih memakai teknologi SMS, karena hape terlalu canggih untuk memasang aplikasi-aplikasi perpesanan xD).

Usut punya usut, ternyata dia sedang tidak dalam keadaan good mood. Katanya sih karena hal sepele, tapi hal sepele yang dimaksud adalah hal yang besar jika saya yang terlibat. Maksudnya,  kalau saya yang sedang berkaitan langsung dengan "hal sepele" itu, maka statusnya bukan sepele lagi. Nah, tapi kenapa jika dia yang berkaitan, meski tidak langsung, maka statusnya sepele? Apakah dia sedang mengelabui dirinya sendiri? Entahlah, dia selalu begitu: bertingkah seolah semuanya baik-baik saja dengan harapan dirinya pun akan tertipu dengan kepura-puraannya, tapi sayang, dia tak pernah tertipu oleh dirinya sendiri.

Selesai santap sahur, komunikasi terputus sejenak oleh hal yang tak bisa diganggu. Maka, kesensiannya pun naik satu tingkat, dua tingkat, sampai berkuadrat-kuadrat. Entah sedang PMS atau apa. Susah sekali membujuknya (atau saya memang tipe orang yang tidak mau bersusah-payah membujuk?).

Maka, bermuaralahh kita pada obrolan melalui akun Facebook. Terlihat sekali saya bukan orang yang mau bersusah payah membujuk, tapi setidaknya saya mencoba :v Obrolan kita bersifat fluktuatif, naik-turun emosi yang dimainkan, rasa-rasanya dia sudah mulai tidak merajuk lagi, tapi yang sebenarnya belum tentu seperti yang saya duga, bukan? Dia memang tidak pernah tertipu oleh dirinya sendiri, tapi saya sering kali tertipu olehnya -_- Obrolan pun berakhir dengan sebuah pertanyaan yang dia ajukan, "Apa yang saya lakuin selama ini, menurutmu masih kurangkah?"

Hmm... hal ini susah untuk diungkapkan jawabannya. Kalau ditilik, semua yang sudah dia lakukan itu cukup! Bahkan, kalo dipikir dari sudut pandang sebagai orang lain apa yang sudah dia lakukan itu lebih dari cukup. Tapi, kenapa hati ini masih sering diliputi keraguan ketika hendak mendeklarasikan keyakinannya akan perasaan terhadap dia?

Terlepas dari itu semua, jarak yang jauh terbentang di antara kita sekarang membuat saya sering kali merasa ada yang hilang :) ada saja hal yang terasa kurang lengkap karena tidak bersamanya, ada saja yang membuat hati ini terasa sedikit perih, terutama ketika melihat yang lain bisa bersama "dia" mereka. Untuk menenangkan diri, saya mencoba untuk menarik diri saya yang dulu untuk menguatkan rapuhnya saya yang sekarang. Diri saya yang dulu, yang ke mana-mana bisa sendiri dan bukan masalah, yang ngapa-ngapain mengandalkan diri sendiri, semua saya tarik kembali untuk menutupi saya yang merasa tak lengkap ini. Apakah itu sudah cukup untuk bisa menjawab pertanyaannya?

Saya ingin kamu segera pulang supaya kita lekas bersua :)

Selamat pagi!

Senin, 27 April 2015

double twenty

source
Secondly, it is finally the twentieth twenty seven. Since a month ago (if I'm not mistaken), I've been thinking about this double twenty. Seems special, and I hope it really is.

Being with someone in twenty months isn't so easy. Especially for him. Being with me maybe a little mistake but sweet. It is hard to face my mood, habits, and my stubbornness. But he did well so far. Even though, he often made me mad and upset and angry, but also happy and smile and laugh.

Twenty months do not a short period of time. But it is short at the same time.

source
The first twenty, it is the twentieth April twentieth. The second decade of my life. Yeah, my life's getting shorter and i don't know when I will leave this life. It's a bit scaring to think about how the time flies this fast. The more pressures also come. So many things have to be done, it feels like so.

It is not easy to pass through this twenty years old. But, there's nothing that I cannot do as long as I believe that Allah never leave me even a second. And also, the parents who always be by my side and support me in their prayers and silence. 

Maturity. The biggest challenge, I think. As the time pass by, the process of being a woman from a girl could be seen in the end. The people around me, they help me to achieve that phase. The one, who often says that he loves me, he gives me strength and always be a good listener (after Allah) and always be my brother, my best friend, and my soulmate. 

Gifts. There was no gift as many as the previous birthday. But there was a surprise from the close friends. A real surprise because I really didn't have any idea of that kind of thing. Smile, that's the only way to express my emotion of happiness and being surprised. Thanks!

Double twenty. Special though. Really mean it ^_^ 
Thank God for this life.
Thanks Mom and Dad and sister for being in my life.
Thanks Kevin Gibran for being someone whom I dream to be in my future.
Thanks all friends, best friends, and close friends for bringing colours into my life and make it more alive.

What a precious twenty(s) is (are) in this year :D

Selasa, 10 Maret 2015

It Has Been 16 Months Already

16 months. I never expected that we will keep being together. Yet, i have to admit that i'm a bit admiring you because of your stubborness to stay with me who is like a stone, you said. But i think it still needs more time. Much more time, dude. Will you stay?

It has been 16 months. Sometimes the memory came to me and screw it all. But, when i have fallen, it will hard for me to stand up. When i have fallen, please hold me tight.

It is cliche! What i have written is just like nothing.

What i want to say is... It has been 16 months. Try to look back what we have through, cieeee

It has been 16 months, is there any other 16 months for us? Let us see, then.

Minggu, 16 November 2014

The Mine

you're the mine
the man that I love
makes everything's fine
my love flies to the roof
to the cloud and moon
and back to you
 
you're the melody of my day
with me sing along night and day
when you go away
i'm here to stay
never want to say goodbye
'cause you're the lovely mine
 
the sunny days come around
you'll be the summer breeze
you keep me safe and sound
while you make the storm sneeze
 
you're the mine
i want to own you forever
having some wine
in the frosty winter
 
you're the mine
i want to see your face
in every morning I wake
am I always in your mind?

source

Rabu, 27 Agustus 2014

12 Little Things

First, the way you wanted to fix me.

Second, the way you made me slowly in love.

Third, the way you treated me.

Fourth, how we spent the days together.

Fifth, how you always be there when I need you.

Sixth, the way you made me upset.

Seventh, the way you made me silently smile.

Eighth, the way we laughed on something that wasn't really funny.

Ninth, about the ice cream, and chocolate.

Tenth, the feelings around us; love, miss, faith, anger, happy, sad, confuse, bored, etc.

Eleventh, the patience of yours on facing me in many moods of mine.

Twelfth, you are an ordinary boy becomes a special boy. I love you just the way you are because you have loved me the way I am since the first time. Thank you for have been with me for 12 months! Not an easy journey, right? :p But you're succeed ^_^

<3 K. G.

Rabu, 30 Juli 2014

sederhana saja...

Cewek. Makhluk yang dicap sebagai makhluk yang paling susah dimengerti. Terkadang saya mengakui hal itu, tapi terkadang juga menyangkal hal itu. Sebenarnya cewek itu sederhana saja, hanya cukup diikuti alurnya. Seperti yang saya kutip dari sebuah film, "Wanita itu terbuat dari tulang rusuk pria. Tulang rusuk itu bengkok, bukan lurus. Jika dipaksa untuk lurus, maka dia akan patah. Namun jika diikuti, kamu akan mendapatkan segalanya."

See? Cewek itu bukan susah dimengerti, hanya butuh orang yang tepat untuk mengikutinya saja. Sederhana saja...

Sesederhana itu. Setiap cewek dengan cowok yang tepat ya nggak akan ribet. Walaupun sesekali cowoknya pasti keribetan, I think that's not a big problem.

Cewek yang suka membaca, sederhana saja... berikan dia buku, maka dia akan bahagia.

Sesederhana hari kemarin. Kentang goreng dan spaghetti, juga sedikit es krim. Matahari terbenam dan kebersamaan.

Ternyata kebahahagiaan memang sering kali sederhana saja. Sesederhana kita tertawa bersama setelah cukup lama tak bersua. Sesederhana mendengar tawamu yang lepas.

Sederhana saja....
Ternyata aku merindukan kita.

Senin, 21 Juli 2014

Bagaimana tiga bulan nanti?

Tiga bulan ke depan akan menjadi berbeda dengan yang sebelumnya. Kalau sebelumnya di pagi atau siang hari kita bisa mencuri-curi waktu untuk bersama, tiga bulan ke depan tidak. Mungkin bisa, tapi tentu berbeda, kan?

Praktek Kerja Lapangan. Ya, itulah yang sedang kamu jalani sekarang. Sebagai syarat akhir sekolahmu lalu kamu lulus dan berkembang. Konsekuensinya jelas, waktu bersama kita berkurang, intensitas komunikasi pun berkurang, namun kamu terus berusaha membuat semuanya seimbang.

Kadang, kesabaran bukan hal yang akrab denganku jadi tak heran jika ada saat-saat di mana aku begitu merecokimu lalu kemudian merasa kesal padamu. Satu rahasia yang sekarang ku ungkap adalah bahwa rinduku itu tak mudah untuk diucap. Mungkin begitu caraku menyampaikan rindu. Kita berbeda, kan? :p


Kamu tahu, kan, menunggu bagiku adalah satu hal terakhir yang akan ku lakukan. Ya, aku tidak suka menunggu. Jadi, daripada aku menunggu lebih baik aku melakukan hal lain saja. Melupakanmu? Oh... tunggu dulu. Kalau aku melupakanmu, akankah aku mau membuang-buang waktu hanya untuk  merecokimu? Koreksi itu, ya! Catatan saja, ketika aku sedang sibuk di saat kamu sibuk itu berarti aku sedang menunggumu. Sudah ku bilang aku tidak suka menunggu, kan~

Mengerti. Kadang cara kita untuk mengerti sangat berbeda. Tentu saja, isi kepala setiap orang pasti berbeda-beda, bukan? Sudahlah, kadang kamu tidak perlu meminta maaf atas keterlambatan yang beralasan karena aku hanya ingin tahu sebab dari keterlambatan itu. Meski suka menebak-nebak, aku tak suka menebak tanpa kepastian juga. Jadi aku tetap butuh sebuah penjelasan maka aku akan mengerti. Sesederhana itu ;)

Perihal bagaimana tiga bulan yang akan berlangsung, kita lihat saja. Selama semuanya lancar, komunikasi utamanya, yaaa kita akan baik-baik saja (y)

Pesan untukmu selama tiga bulan ini adalah tetap fokus dan hati-hati.

Selamat dan semangat bekerja!!! ^_^

Senin, 12 Mei 2014

You're the Cure

Yeah, now I have to admit that whenever I feel so angry or upset with you, that's because I need more attention to given to me. And all of it comes from you.

In daily, I can handle all of my emotion when I'm with my mom, dad, or sister. I think that's because I know where I am in my family. In my thought, I'm the first warrior who has an obligation to protect my mom and sister when my dad was not there. In addition, I also think that I should not have to be childish in the age of 19.

Well, in this case... when I feel so tired because all of the self-defense and protecting two women in the house, I need someone who can give me care and love and help and cure and throw my loneliness away. And there you are, the one that I'm looking for.

But... when you're not there for me because you had many things that's gonna make you busy, what can I do? Ya, I know that I supposed to be patient and understand. However, when you feel down and need someone to pick you up then be by your side but you can't, just tell me the way to keep calm on that situation then I'll be fine.

Meanwhile, how if in fact that you can't handle your self to keep calm on that situation? It's gonna be hard to pretend to people that you're fine, right? So, here I am, needing you so much like I've never been needing you before. What a shame, you can't be here.

Then, my anger gets higher and I'm going upset. I'm starting to complain about everything even it doesn't change a thing. Actually, all I need is you. But unfortunately, I was too naive to say that I need you a lot and miss you and even love you. Sorry.

Everything would change, doesn't it? So, let me tell you an interesting point: everything changes when I meet you directly, sit facing each other. Believe me or not, all of my anger and upset are going to melt down.  May I say that all of those happen caused by the warmth of your smile and the way you look at me right to my eyes? That's it.

You're the cure when I'm getting sick after all of the self-defense that I did. I never used to said that I miss you and love you every single minute like you did, right? But the truth that I always try to avoid is those things are often too true.

Don't walk too fast 'cause I'm gonna get tired to follow.
Don't busy too much 'cause I'm gonna get lonely.
Don't disappear too long 'cause I'm gonna lose you for a long time as well.
Don't go too far 'cause I'm gonna miss you.

I think you need to know this: lately I realize that maybe I can love you like you do to me.

Selasa, 29 April 2014

untuk malam ini

kadang, ketika malam datang dan kau merasa lelah akibat berkegiatan. aku menatap layar ponsel sambil berpikir; menyuruhmu lekas tidur atau menahanmu untuk tetap terjaga. seringkali aku mengutamakan ego dan menahanmu untuk tetap terjaga.

aku tak ingin merasa sendiri setelah semua terlelap dan aku terjaga, terusik oleh pikiran-pikiran yang bergejolak. kemudian aku tau bahwa kau yang bisa ada, namun aku pun sering merasa tak tega. bagaimana mungkin aku menahan kantuk akibat lelahmu hanya untuk menemani kesepianku?

malam ini aku memaksamu segera terlelap. sungguh, aku masih ingin ditemani. tapi aku tak ingin menoreh luka di hatimu lagi akibat emosi yang sedang meluap-luap oleh satu sebab. lebih baik aku merasa sepi daripada menyakiti hati orang lain, belum tentu aku termaafkan.

maka di sini aku, duduk di depan layar komputer lipat, mendengar suara televisi yang mengocehkan hal yang tak ku mengerti, politik. terbesit rasa bersalah dan menyesal atasmu, namun aku memilih untuk tak memikirkan itu, hanya akan membuatku merasa semakin jahat.

ingin menangis aku rasanya. hendak berbagi cerita denganmu, namun tak tega dengan kalimat lelahmu. biarkan saja aku yang mengalah. meski aku tak tahu kau benar pergi tidur atau hanya sekedar meninggalkanku agar tenang saja, semoga lelahmu lenyap.

maaf ya untuk malam ini aku bukan seorang yang biasanya membuatmu sejuk. orang itu malam ini sedang tersulut emosi yang jika sedikit diusik akan merembes ke mana-mana.

maaf ya untuk memaksamu dalam melakukan banyak hal hingga saat ini.

terima kasih sudah begitu sabar :')

selamat malam.

Jumat, 25 April 2014

Filosofi Kucing

tanggal 23 April kemaren abang Zombie ngasi late gifts.
lucu sekali sih cara ngasihnya, soalnya saya udah tau gelagatnya xD
tapi, supaya dia nggak sedih dan kriik... jadi saya kemudian akting gak tau apa-apa ;)

sampe rumah, saya buka late giftnya...
isinya boneka sama t-shirt Chelsea gitu :3
ini dia salah satunya...
Peelo ^_^
saya inget penampakan boneka ini di sebuah kartun, waktu itu lupa.
sekarang udah inget.
ya, dia Oggy dalam kartun Oggy and the Cockroaches.
Oggy, si meong bloon yang dijahilin sama kecoa-kecoa odong -,-
ini kenapa dikasih si meong bloon sama Zombie --'

...
ternyata, Zombie punya filosofi sendiri tentang kucing:
"seberapa pun joroknya dirimu, seberapa pun bencinya kamu akan akibat dan hal
yang terjadi karena kejorokan itu, 
kamulah yang akan bertanggung jawab."

maksudnya:
"kalo kita suka sama seseorang, kemudian kita memiliki perasaan suka maupun benci 
sama dia,
suatu saat apa yang akan dia tunjukkan (balas) ke kita adalah
cerminan dari apa yang kita berikan."

masih bingung?
sama.
sepertinya itu menjurus ke hukum karma...
jadi, kalo kita baik ke orang maka suatu saat kita akan bertemu dengan orang 
yang akan bersikap baik sama kita.
sebaliknya, kalo kita jahat ke orang maka suatu saat kita akan bertemu dengan orang
yang sikapnya akan tidak baik sama kita.
sepertinya begitu... *manggut-manggut*
jadi, maksud dari filosofi itu buat saya apa, ya?
over all, thank you for those late gifts, ya! ^_^

Sabtu, 12 April 2014

Berapa Lama Lagi

membiarkanmu sendiri?
tolong jangan tanyakan itu
seharusnya kau sudah mengetahui jawabannya.
ya, aku tidak akan membiarkanmu sendiri.
tapi kaulah yang membiarkan dirimu menyendiri sendiri.

ketika aku berusaha menyamai langkahmu
dan berjalan mengikuti jalanmu
terkadang aku tertinggal
kemudian aku tersesat.

aku tak akan menangis karena tertinggal,
aku akan berusaha menyamai langkahmu.
aku tak akan berteriak karena tersesat,
aku akan berusaha kembali mengikuti jalanmu.

meski terkadang aku tak mampu menguasai diri,
aku mencoba untuk menahan amarah yang
seperti meledak-ledak.

akankah aku mampu lebih lama lagi?
untuk terus berusaha menyamai langkahmu,
untuk terus mengikuti jalanmu.

sampai pada sebuah persimpangan,
aku bertanya pada diriku:
"berapa lama lagi aku akan bertahan?"

sampai pada sebuah persimpangan,
aku bertanya pada diriku:
"jika kau berjalan terlalu cepat,
tidakkah aku kehilangan jejakmu
dan berhenti bisa mengikutimu?"

sampai pada sebuah persimpangan",
aku bertanya pada diriku:
"jika sudah kehilangan jejakmu,
mungkinkah aku akan menemukan jalanmu?"

"jika tidak, mungkin kita memang tidak bisa
berjalan di jalan yang sama
dengan laju langkah yang sama."

"mungkin memang suatu saat,
di sebuah persimpangan,
kita memang akan berpisah."

"mungkin di sana, di sebuah persimpangan itu,
kita akan mulai berjalan
dengan laju langkah masing-masing
melalui jalan masing-masing."

sampai saat ini,
aku terus bertanya pada diriku:
"berapa lama lagi aku akan bertahan?"

Jumat, 07 Maret 2014

Dear, birthday Zombie with love...

Don't go changing, to try and please me
You never let me down before
Don't imagine you're too familiar
And I don't see you anymore

I would not leave you in times of trouble
We never could have come this far
I took the good times, I'll take the bad times
I'll take you just the way you are


Don't go trying some new fashion
Don't change the color of your hair
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care


I don't want clever conversation
I never want to work that hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are.


I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
What will it take 'till you believe in me
The way that I believe in you.


I said I love you and that's forever
And this I promise from my heart
I couldn't love you any better
I love you just the way you are.


HAPPY 19th BIRHTDAY
KEVIN GIBRAN


 song: Billy Joel - Just The Way You Are