Sabtu, 10 Agustus 2013

Analogi Hati

Udah putus, tapi temenan. Baik.
Udah putus, tetep telfonan dan ngobrol sambil ketawa-ketawa, berkelakar, saling ejek, ,berdebat tentang hal yang sama sekali nggak penting, dan lupa waktu.
Udah putus, tapi tetep kangen.
Udah putus, tapi... yakin beneran mau putus?
Hahaha :D

Sampe akhirnya...
"Ngerasa aneh nggak?"
"Aneh? Apa?"
"Kita... Kita aneh nggak sih?"
"Aneh kenapa?"
"Kita... Apa sih bedanya kita sekarang, setelah putus sama sebelum putus?"
"Cuma beda status."
"Cuma beda status, ya? Iya sih..."
"Iya. Apa lagi?"
"Ngg ak tau, makanya nanya. Cuma beda status ya? Iya sih... Sekarang kita tetep telfonan gini..."


Sebelum dan sesudah itu, ada satu hal lagi yang sedikit menyikut sebuah sudut di ruang kosong dalam sebuah hati, "Harus berbuat apa jika kita mengetahui bahwa ada seorang yang terlengkapi oleh kita, sementara kita masih merasa terlengkapi oleh orang yang secara teknis bukan milik kita lagi?"

Sekarang... daripada mengorbankan satu demi keegoisan, daripada memenangkan diri demi separuh hati, lebih baik mengorbankan diri sendiri dan bahagia memiliki keduanya, bahagia dan membahagiakan.
Bahagia itu sederhana, saat kita bisa tersenyum karena melihat senyum orang lain karena kita, dan kita bisa tersenyum karena seseorang yang kita sayang kita ketahui masih ada untuk kita :)

Dan kenapa harus galau kalo yang sayang sama kita nggak pergi dan tetap di sana, menunggu untuk kita hampiri ketika kita membutuhkannya?
Karena sayang itu adalah ketulusan. Entah bagaimana dengan cinta, definisi yang terlalu beragam.
Tapi aku percaya, sayang itu milik siapa saja, oleh siapa saja, untuk siapa saja, dan berbeda-beda tiap kita.


Selamat akhir pekan! <3

Kamis, 01 Agustus 2013

Epilog

Hola!
Finally, satu keputusan yang cukup ekstrim bisa mengubah banyak hal! hahaha :D
Jadi... sudah 10 hari-anlah ^^ walaupun awalnya beraaaaaattttt banget, bahkan sebelum awal aja udah berat banget, tapi kita kan harus berani. Jadilah saya berani! hihi ^^ banyak dukungan bikin tambah berani. Karena, apapun resikonya, kita tahu bahwa kita nggak sendirian, kita masih punya orang-orang yang ada buat kita. Ya, mereka ada. Dan selalu ada. Thank you, friends!

Meskipun Gifari bilang, menurut quotes, di antara 10 orang ada 9 orang yang nggak peduli dan 1 orang yang bahagia ketika kita sedang ada masalah dan sedih. Tapi saya percaya, ada setidaknya ada satu orang lagi yang memang peduli :) So, there are 11 people.

Oke...soal cowok cuek, itu sekarang adalah cerita. Cerita yang indah juga dramatis. Ck ck ck...
Bagaimana akhirnya adalah tergantung pada keberanian. Kalo nggak berani... ya sampe kiamat bakal dramatis. Tapi kalo berani, selamat buat cerita yang baru \=D/

Cuma cerita.

Sekarang nggak ada lagi cerita mewek-mewek grgr dicuekin, dikacangin, dijutekin, dibingungin, digalauin, dan teman-temannya. Sekarang yang ada alhamdulillah lega, nggak ada beban, dan FREEDOM!
Yeah, i love the last word.

Kebebasan.
Kebebasan untuk berteman dengan siapa saja tanpa perlu memperhatikan batasan yang harus dipatuhi karena sebuah status. hahaha
Kebebasan untuk melepas rindu dan perhatian ke siapa aja :p
Kebebasan untuk memilih lagi #eaaa
Kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Nah!

Di saat dengerin temen galau grgr masalah yang sama, tapi itu dulu buat saya, saya cuma bisa ketawa sambil nepuk-nepuk pundaknya sambil bilang, "Udah... udahan aja. Masih aja galau-galau~" hihi
#plak

Kurang kurang ajar di mananya coba? ck ck ck

Tapi... yah, kadang sebuah hal sepele dan ekstrim bisa membawa perubahan yang cukup berarti. Nyesel itu boleh kok, siapa bilang nggak boleh? Cumaaaa... nyeselnya jangan sampe balik ke kesalahan yang udah diperbaiki, which is mengubur diri di lubang sama. Cari mati banget!

Hidup ini, di dunia, kan cuma sekali. Jadi, ngapain nyiksa diri dengan hal-hal yang maksa kita buar jadi orang lain? Ini hidup kita, kenapa harus jadi orang lain di hidup kita sendiri? Kalo ada yang nggak suka sama diri kita sebagaimana kita, otomatis ada juga yang suka dong. So, dunia nggak bakal kiamat kalo ada orang yang nggak suka sama kita. Itu hak mereka buat suka ato nggak suka. Toh kita juga termasuk orang yang begitu kan? Suka ato nggak suka sama orang lain. Jadi, itu wajar! Kenapa harus repot biar semua orang suka sama kita tapi itu malah bikin kita nggak nyaman? Think again.

Kalo ngomongin masalah perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan apa yang kita pengen... rasanya sayang kan ya, kalo apa yang udah kita usahain mati-matian kita lepas gitu aja. Gitu aja... Tapi, think again. Kalo udah nggak nyaman dan nggak cocok lagi, buat apa dipaksain? Toh waktu terus berjalan dan pilihan masih banyakk. Muehehehe *muka culas*
Kalo emang pilihan terakhir adalah melepas, kenapa harus maksa bikin satu pilihan lagi untuk bertahan tapi udah nggak nyaman? It  makes no sense, just rising a pain. *sok Inggris* #plak

Ini ngomongin apa?

Oke, ini ngomongin pacar. hehe

Jadi, bisa disimpulkan bahwa ketika udah ngerasa nggak nyaman dan nggak cocok sama pacar kalian yang sekarang, maka putuslah. *dipandang dengan tatapan membunuh*

*evil mode: on*

Iya, putusin aja. Kenapa harus pacaran kalo kerjaan kalian cuma mewek dan galau terus tiap malem Minggu? muahahaha xD

Iyaya, berat sih... Awalnya emang gitu kok! Tapi manusia kan pinter beradaptasi, jadi tinggal gimana kitanya aja, mau move on ato enggak ;) Tapi percayalah, kalo pacar kalian orangnya cuek dan moody, maka move on akan cepat #plak

Gila! Postingan ini kayak sales, menghasut abisss!!! hahaha *evil laugh*

Yaa gitu sih. Kadang kalo pacar udah nggak cocok jadi pacar, cobalah untuk berteman dengannya, siapatau lebih asik. Kan udah memahami satu sama lain, jadi bisa lebih nyaman kan... Nah, barangkali dengan melalui fase berteman bisa nemuin titik kecocokan lagi, trus balikan deh :D #modus #plak #nomention

Jadi, putus sama pacar bukanlah akhir dari kisah dan perjalanan cinta kita, kalian, guys! haha
Bisa jadi itu hanya metamorfosis menuju cerita yang lebih indah lagiii.... #tssah

Iya, gitu... Kalo nggak nyaman, putus aja. Trus temenan, jangan musuhan. Masih ada kemungkinan balikan sebelum janur kuning melengkung. #eaa

Terus aja ngelantur~

Sip? Do you get what i mean? If yes, go ahead and make you brave decision! Brave decision means broke up with your lover, hihi
Note: if you don't feel comfortable anymore.

At least... just goodbye old sad love story~ welcome a new chapter! I even don't start it yet. Yeah, i'm in adaption phase :D


thank you for undefined 6 months, F!
i love you, but in the different way now ;)

Minggu, 21 Juli 2013

Confession

Hai! Sudah lama ya, saya gak tau kamu gimana. Sudah lama juga lho kamu begini, ngilang, jutek, badmood tanpa sebab. Itu berarti sudah lama juga ya kamu gantungin status kita, pacaran tapi gak saling ngabarin kayak orang berantem, gak pacaran tapi belum putus. Dan rasanya digantung itu, kalo kamu gak tau, gak enak. Ibarat berdiri nih, kita berdiri berdampingan, kaki kita diiket rantai. Kamu mau jalan ke kanan, saya mau jalan ke kiri, gak bisa. Mau jalan bareng, beda tujuan, gak enak. Digantung itu gak enak, penuh ketidakpastian. Kamu nggak bosen sama titel PHP yang kamu nobatkan buat kamu sendiri sejak dulu? Nggak kasian sama cewek-cewek yang udah kamu jadiin korban? Di mana hati dan perasaan kamu sebagai cowok yang harusnya melindungi cewek?

Kamu nggak berani melangkah duluan? Oke, saya yang mendahului kamu. Kalo nggak salah satu dari kita, siapa lagi? Kan yang terlibat cuma kita berdua. Kalo bukan kamu, ya saya. Kalo bukan saya, bisakah saya berharap kamu untuk berani, sekedar berani, untuk omongin keputusan tanpa bertanya?

Setelah saya melangkah duluan, kamu masih tetep diem di tempat? Mau berubah tapi nggak mau melangkah? Yakin? Emang apa yang berubah kalo cuma diem? Halo... dunia masih luas, jalanan masih panjang, waktu tetep berlalu. Untuk apa diem kalo semua itu tidak? Sampe kapan mau gantungin hubungan kamu? Kamu dan saya. Sampe kapan? Apa kamu punya alasan yang cukup buat menjabarkan kenapa sikapmu begitu selama ini? Saya salah? Pasti. Kamu juga? Pasti. Kita sama-sama salah, tapi kenapa kita nggak bisa omongin itu semua dan bikin semuanya bener lagi? Percuma katamu? Itu cuma pendapat orang yang nggak mau mencoba. Itu cuma pendapat orang yang takut sama risiko. Itu cuma pendapatmu yang takut kehilangan, tapi sudah gak kuat bertahan. Hidup ini pilihan, jadi kamu harus milih. Setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing. Apapun itu, namanya juga hidup, harus kita lewatin.

Hai. Sampe kapan mau sembunyi? Sampe kapan mau lari-larian di tempat? Kalo kamu nggak tau, semua nggak berubah jadi lebih baik, tapi sebaliknya. Kamu yang tanpa respon apapun, dan saya yang berusaha nyari jawaban atas pertanyaan yang bahkan saya nggak tau. Jadi kita ngapain?

Setelah saya yang ambil tindakan, kamu juga tetep not responding. Kenapa? Apa perlu saya menganggap kamu dan saya cuma saya sehingga keputusan saya hanya perlu persetujuan saya? Menurutmu gimana?

Sampe titik ini, kayaknya kita sudah nemuin persimpangan kita masing-masing. Sampe titik ini, kita sudah nggak bisa melengkapi satu sama lain, apa yang kita harapkan dari satu sama lain sudah nggak bisa kita dapetin lagi. Itu artinya apa? Kita butuh orang lain. Kenapa? Karena kita nggak bisa maksa satu sama lain buat jadi orang-orang yang kita inginkan. Think wise, act wise. Putus itu nggak selamanya buruk. Katamu, demi kebaikan.

Dan buat saya, kehilangan kamu itu nggak bakal bikin saya jatuh trus nggak bisa bangkit. Karena saya masih punya orang-orang di sekitar saya yang bantuin saya buat bangkit. Kehilangan kamu hanyalah sebuah proses yang harus saya lewatin. Hidup ini proses, bukan? Saya masih punya temen-temen yang ngedukung saya, menghargai saya, dan peduli sama saya, dan ada buat saya. Maaf.

Belakangan saya menyadari sesuatu. Bahwa di saat saya sama kamu, saya nggak ngeliat diri saya yang sesungguhnya secara utuh. Kamu tau rasanya? Rasanya kayak main drama dan disukai banyak orang, tapi ketika drama itu selesai nggak ada yang mau peduli bahwa kamu di baliknya. Menyedihkan. Memang menyedihkan. Tapi itu bukan berarti sama kamu saya nggak pernah bahagia, bukan. Sama kamu saya merasakan banyak hal yang berbeda. Tapi sekarang sudah nggak sama lagi. Nggak sama.

Seandainya kamu punya sepatu. Sepatu itu dulunya kamu pengenin banget sampe akhirnya kamu punya dan dengan senang hati kamu pake ke mana-mana. Tapi tiba waktunya di mana sepatu itu udah nggak nyaman lagi buat dipake. Kamu bakal apain sepatu itu? Tentu saja bakal nyariin penggantinya, kan? Mungkin itu yang perlu kamu, kita, lakuin demi kebaikan kita masing-masing. Ketika sudah tidak nyaman dengan sesuatu, makan kita harus mencari gantinya. Betul? Kalo betul, kenapa kamu nggak mau menyelesaikan masalah kita dulu?

Gimana rasanya digantungin? Secara harfiah kamu harusnya bisa ngebanyangin rasanya.

Setau saya kamu itu orangnya keras, tapi kenapa kamu nggak berani untuk tegas?
Setau saya kamu itu orangnya berani, tapi kenapa untuk ini kamu takut?
Setau saya kamu orangnya nggak suka ribet, tapi kenapa kamu biarin ini tetep rumit?

Mungkin kamu mikir dengan cuekin saya dan mengabaikan status kita bakal menyederhanakan semuanya? Oh...saya kasitau kalo kamu salah. Salah banget! It makes no sense. It makes trouble. And now, we have to face that trouble, but why you don't have any brave to?

Jadi, sampe kapan kamu bakal jadi penggantung?

21.7.13

Selasa, 09 Juli 2013

Apa-apaan...

Selamat malam menjelang tengah malam.
Curhat lagi dong biar gawl \m/

Hari ini hari patah hati nih. Bukan grgr cowok sih, tapi kali aja iya. Lebih tepatnya patah hati grgr hasil tes SBMPTN. Namanya gagal ya wajar kan? Okesip. Masih ada pintu lain kok ;)

Entah kenapa, saya percaya sama quotes-quotes yang saya tempel di samping lemari meja belajar pake post it. Salah satunya dari Ed Sheeran "Everything will be okay in the end. If it's not okay, then it's not the end."
Mantap !

Weit...intinya bukan mau curhatin itu sih. Ini mau curhatin masalah seorang cowok yang super cuek. Entah karena faktor B ato M, yang jelas dia jadi nyebelin jadinya saya males sama dia. #plak

Awalnya sih enak waktu saya SMS dan bilang saya gak lolos, tapi selanjutnya, di luar harapan. Ato saya yang terlalu mengharap lebih? Bisa jadi.
Apa salah? Masa sih? Emang nggak boleh ya kita ngarepin dukungan dan penghiburan dari pacar sendiri? *sigh
Biarlah~ toh nggak cuma dia, masih punya banyak temen yang bisa ngasih support dan penghiburan kok ;)

Yang nyebelinnya adalah pas dia nelfon nih... gak tau deh ya saya yang terlalu ngarep ato gimana, dia cerita tentang tesnya dia itulah. Mulai kurang update tentang itu. Dan suaranya, alhamdulillah, nggak sejutek sebelumnya. Oke, bagian itu masih oke.
Bagian nggak okenya di sini nih... di bagian ternyata dia cuma mau cerita itu aja. Gila nggak? Nyebelin kan?
Ada sih dia nyinggung-nyinggung dikir masalah SBMPTN dan tes mandiri, tapi cuma sekedar. SEKEDAR. Sisanya ya itu... cerita tentang tesnya ato lebih tepatnya cerita tentang dia yang nontonin orang tes.
Kecewa? Iyalah! Gitu doang? Ya, cuma gitu doang. Nyakitin, haum~

Udah, sampe situ saya males deh mau hubungin dia lagi. MasyaAllah...

Syukurnya...malemnya nih sebelum exit Twitter, saya ngetweet dulu nih. Ngetweet quotes yang tadi. Ngetweet sebelum tidur emang gawl..
Trusnya... saya nungguin, ada yang ngerespon nggak ya? Langsung deh buka "Connect".
Tadaaa....seseorang mem-favorite-kannya :D hahaha senengnyaaa
Bukan masalah apa-apanya, tapi ini ngomongin siapanya. Muehehehe
Pelipur lara gitu kali yee...
Karena pacar super cuek dan mendadak jutek dan nyebelin, jadinya kalo ada orang lain yang mengambil alih tugas itu rasanya... ya seneng! Masa bodo sama pacar. #plak

Udah direspon, disemangatin, ditabahin, diperhatiin. Mantap lah~

Pacar? Ke laut aja dulu gih~ #plak

Durhaka banget jadi pacar nih akhir-akhir ini, menghujat mulu kerjaannya. #plak
Abis gimana yaa... Masa sih dia doang yang mau diperhatiin segala macem? Nah lho, mulai keliatan kayak nggak ikhlas kan jadinya? ckckckck #plak

Well~ curhatan kali ini sungguh tentang hati yang mulai melenceng ke mana-mana. Nggak baik!
Tapi... saya orang tipe darah B ya, jadi... gimana perlakuan orang ke saya, ya begitulah saya memperlakukan mereka. Dengan ada pengecualian untuk orang-orang tertentu. *tssah

Jadi nih, sambil ngetik curhatan ini saya sambil bales-balesan mention sama seseorang itu. Bahaya banget!

Psst..saya tipe orang yang gampang suka sama orang. Jadi yaa... bahaya banget nih kalo sampe longgarin sabuk pengaman. Saya masih mikirin pacar kok. Dan masih setia sama dia selama dia nyebelinnya nggak permanen.

Radar menunjukkan bahwa saya harus berhati-hati. Salah-salah ntar malah ambil jalur belok. Bahaya~

Yuk mari nggak usah bahas itu lagi :D
Yuk mari bales-balesan mention dulu sebelum tidur...
Yuk mari kirim cium dan peluk dari jauh untuk pacar di sana :* ({})
Yuk mariii~~~



Oyasuminasai!

Senin, 08 Juli 2013

Curhaaaaaaatttttt -o- #plak

Masih cuek. Ditambah suka nggak mau ngomong kalo ada sesuatu trus bikin bingung sama bikin gelisah sendiri yang ujung-ujungnya galau sendiri trus tiba-tiba moodnya balik bagus lagi. Gila! Tuh orang emang beneran susah ditebak. Emosi berubah bisa tanpa dibayangin! Dan lebih gilanya lagi, saya masih bisa bertahan sama cowok kayak gitu. Well... kekuatan mengalah itu emang superrr!!!

Belakangan ini dia aneh. Lebih aneh dari biasanya. Super aneh!
4 hari nih tanpa kabar apapun. Hari ke-4 saya telfon, tapi dianya udah tidur. Subuhnya di hari ke-5 dia nelpon. Dan ntar siangannya saya yang nelfon lagi. Well, nada bicaranya sungguh nggak enak buat didenger. Sumpah tu. Nada ngomongnya tuh tipikal orang badmood, males, nggak niat, dan sejenis itu. Gimana nggak ngedumel dalem hati cobak? Tapi teteup... nada bicara dihalusin biar dia nggak makin menjadi-jadi.

Trusnyaaa... di hari selanjutnya, di telfon, yah nada bicaranya masih sama. Pengen gue lempar pake sepatu boots babe! Nyebelinnya! Salah gue di mana, dia nggak mau kasitau. Gue minta maaf, dianya maafin setengah hati, ditambah sebuah kalimat yang sungguh makin membulatkan niat buat ngelempar sepatu boot: "ya, syukur dah nyadar"
GILAAAA!!! Kurang nyebelin di sebelah mana coba bilang???

*dari "saya" sampe "gue" saking emosi*

Oke... temen-temen, nope, sahabat gue menyarankan gue untuk bersabar dan minta maaf lebih tulus dan melakukannya dengan lebih dari sekedar berkata-kata. Gue sih oke-oke aja, tapi dianya yang terus sibuk dengan alasan mau fokus buat tes tentaranya. Gue nggak bisa maksain. Gue mau ke rumahnya, dia bilang nggak boleh. Jadi, tindakan apa yang bisa gue lakukan kalo dianya sendiri nggak ngasi lampu ijo? See?

Dan sampe detik ini gue nggak tau masalah apa yang bikin dia kayak gitu. Gue mau nanya, percuma, guys! Nggak bakal dikasitau. Jawaban most sayingnya dia tuh cuma satu: "percuma saya bilang, pikir dah sendiri!"
Haumm... gila! Sebagai manusia yang nggak sempurna, gue butuh orang lain untuk memperbaiki gue dengan bilang salah gue di mana dong. Tapi dia nggak mau ngebantu. Ckck...

Ohya! Kata sahabat gue, Kevin, waktu dia ngomong tentang cinta, dia cuma menekankan pada dua hal: keikhlasan dan kejujuran. Bener kan?

Keikhlasan untuk berbagi, menerima, melindungi, berkorban, dan bertahan.
Di sini gue mau ngomongin pengorbanan ah. Soalnya kemaren dia pernah nyinggung soal itu dan gue nggak suka caranya dia menuntut sesuatu yang harusnya dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan ataupun diminta. Iya, kan?
Oke, itu tentang pengorbanan.
Kemaren sebuah kalimat nyebelin dari dia adalah: "wah, ndak ada pengorbanannya ni."
Nyebelin! Gue nggak suka! Sama sekali! Tolong deh ya, kalo berkorban nggak ikhlas, mending jangan. Ato mungkin gue yang emang keterlaluan karena nggak pernah melakukan pengorbanan yang cukup berarti buat dia, di mata dia? Hmm...
Baiklah, gue masih harus berpikir keras untuk melakukan sebuah pengorbanan yang bisa dia perhitungkan, jadi besok-besok dia nggak bakal nuntut lagi. Duh, sejak kapan pacaran jadi repot? *sigh #plak

Okesip.

Jadi, sekarang gue harus berusaha introspeksi diri gitu ya? Kenapa nggak dia juga? Salahnya bukan di gue aja deh...
Hal ternyebelin saat ini adalah harus ngeraba-raba punya salah apa tanpa clue sedikit pun.
Kayaknya sih gue tau, tapi... masa iya itu-itu lagi? Kalo gue nggak bisa ngerubah "itu" gimana dong? Toh dia juga punya sifat yang nggak bisa dirubah kan? Kalo gue nggak bisa ngerubah "itu", apa gue harus jadi orang lain demi dia? NO! Kalo "itu" nggak berubah, apa gue sama dia bakal tetep gini-gini aja? Kalo "itu" nggak berubah, apa gue harus terus-terusan ngerasa bersalah dan ngedengerin suara juteknya dia tiap nelfon? *sigh


Lagi demen denger lagu bagus nih! Lagunya Dochi Sadega yang Dalam Kelam.
Kayaknya nih lagu isi hati mantan nih... gue jadi keinget dia terus belakangan ini, semenjak si doi jutek kayak cewek PMS. wkwk
Dosa nggak sih? Salah sih iya. Abisnya... nggak bisa dipaksain juga kan ya? Tapi tetep kok... hati gue masih gue titip sam doi, semoga aja masih dijagain kayak gue yang berusaha jagain hatinya doi. #ciee


Gue sering banget kangen sama dia (pacar), tapi tiap kali dia nelfon trus denger suara juteknya dia, rasanya gue pengen bentak dia sambil bilang, "bisa nggak itu suara nggak sejutek itu? Pengen gue matiin aja nih telfonnya! Lo kira enak ya ngedengerin nada bicara lo yang kayak gitu? Kalo lo gue gituin, lo pasti ngedumel blak-blakan. Iya, kan?!" *inhale-exhale*


Fyuh...
Judulnya sih gue bingung.
Gue bingung harus bersikap gimana sama dia sekarang. Gue baik-baikin, dia tetep jutek. Ntar kalo gue jutekin balik, dia bisa lebih jutek. Parah!
Nah, kalo gue cuekin, nanti salah gue makin banyak dan dia ngomongnya makin hemat. Ih, hebat!
Sekarang gue mesti gimana dong?

Hari ini dia cuman SMS gue sekali (3 SMS), setelah itu nggak ada lagi.
Gue aja sih yang SMSin dia, dan ya iyalah nggak ada balesan.
Gue mau nelfon, males ngedenger suaranya yang jutek itu. Kalo gue ngomong jujur, ntar dia bilang gini, "kenapa? nggak suka? trus sekarang maunya gimana? putus?" ato nggak gini, "kenapa? bosen? Nggak kuat? Mau putus?" #plak *gue tampar dia*

Kalo gue kasar dan nggak mikir, gue pasti udah balikin tuh pertanyaan-pertanyaan ke dia. Iya nggak sih?

Kok gue jadi emosi kalo mikirin dia yang begitu ya? Susah banget dingertiin tuh anak makin ke sininya -__- arrrrgh~ dosa banyak kan jadinya gue gara-gara suudzon ke dia. *elus dada*
Makin dosa lagi nih... gue ngumbar ke-badmood-an gue ke dia yang kayak gitu --"

Aaaaaaaaaannnndddd..............................................gue males! lalalala~~~

Gue hampir kehabisan ide tentang gimana gue mesti bersikap dan berkata-kata di depan tuh makhluk~
Errrr~

Jumat, 14 Juni 2013

Facing Mr. SuperCuek

Hola~ Entah cuek apa gimana... orang yang satu itu... mungkin lebih dingin dari suhu di Antartika. Mungkin. Tapi dia gak dingin, dia cuek. C-U-E-K.

Gimana yaa...
Orang tersulit dihubungi itu... dia.
Ditelpon, kalo gak pas timingnya, pasti gak bakal diangkat.
DiSMS... hmm... kalo dibales, itu namanya keberuntungan banget! Bisa jadi dalam seminggu, di antara belasan SMS, cuman satu ato gak dua yang dibales. See?

Cara menghadapi orang cuek lebih susah daripada menghadapi orang nyebelin.
Dan secuek-cueknya cewek cuek, masih ada cowok yang lebih cuek lagi.

Gimana rasanya kalo cueknya cowok udah tingkat dewa? Krik... krik... krik.....

Dilema bak CherryBelle. Ngadepin cowok super cuek itu bikin pengen berdiri di depan muka dia trus ngomong biar gak dikacangin. Ngadepin cowok cuek yang ngomong secukupnya itu bikin pengen meluk dia, biar sekalian nggak usah ngomong aja tapi kita berinteraksi dalam hening dan merasakan aliran cinta (*Tssah) yang menjalari tubuh masing-masing, dari ujung jempol kaki sampe ke hati trus ubun-ubun. Eaaa~

Untuk cowok cuek, tolong ya... cueknya jangan makin menjadi-jadi.

Selasa, 04 Juni 2013

Better than Love

Seemed impossible, seemed absurd.
I didn't even know you before.
Kept my distance, closing in.
I don't mind caressing you skin.

What did you say, what did you do.
Somehow, I feel I'm enchanted by you.
Flying high on a mountain high.
Suddenly you look as bright as the sky.

Something old, something new,
Something I didn't thought could be true.
Have I forgotten or have I never
felt like this, as light as a feather.

Not interested in love, but I'm attracted to you.
I hope that you feel the same way too.
A little too fast, but way too long.
Though I'm not sure where I belong.

Something old, something new.
Something I didn't thought could be true.
Love's too strong and a bit cliche.
For now this is enough, I've got a long way.

Something old, something new.
Something I didn't thought could be true.
I'm afraid to ask, but I need to know.
Would you want me to stay, or, would you want me to go?


These are my feelings.
I hope you understand....