Senin, 08 Juli 2013

Curhaaaaaaatttttt -o- #plak

Masih cuek. Ditambah suka nggak mau ngomong kalo ada sesuatu trus bikin bingung sama bikin gelisah sendiri yang ujung-ujungnya galau sendiri trus tiba-tiba moodnya balik bagus lagi. Gila! Tuh orang emang beneran susah ditebak. Emosi berubah bisa tanpa dibayangin! Dan lebih gilanya lagi, saya masih bisa bertahan sama cowok kayak gitu. Well... kekuatan mengalah itu emang superrr!!!

Belakangan ini dia aneh. Lebih aneh dari biasanya. Super aneh!
4 hari nih tanpa kabar apapun. Hari ke-4 saya telfon, tapi dianya udah tidur. Subuhnya di hari ke-5 dia nelpon. Dan ntar siangannya saya yang nelfon lagi. Well, nada bicaranya sungguh nggak enak buat didenger. Sumpah tu. Nada ngomongnya tuh tipikal orang badmood, males, nggak niat, dan sejenis itu. Gimana nggak ngedumel dalem hati cobak? Tapi teteup... nada bicara dihalusin biar dia nggak makin menjadi-jadi.

Trusnyaaa... di hari selanjutnya, di telfon, yah nada bicaranya masih sama. Pengen gue lempar pake sepatu boots babe! Nyebelinnya! Salah gue di mana, dia nggak mau kasitau. Gue minta maaf, dianya maafin setengah hati, ditambah sebuah kalimat yang sungguh makin membulatkan niat buat ngelempar sepatu boot: "ya, syukur dah nyadar"
GILAAAA!!! Kurang nyebelin di sebelah mana coba bilang???

*dari "saya" sampe "gue" saking emosi*

Oke... temen-temen, nope, sahabat gue menyarankan gue untuk bersabar dan minta maaf lebih tulus dan melakukannya dengan lebih dari sekedar berkata-kata. Gue sih oke-oke aja, tapi dianya yang terus sibuk dengan alasan mau fokus buat tes tentaranya. Gue nggak bisa maksain. Gue mau ke rumahnya, dia bilang nggak boleh. Jadi, tindakan apa yang bisa gue lakukan kalo dianya sendiri nggak ngasi lampu ijo? See?

Dan sampe detik ini gue nggak tau masalah apa yang bikin dia kayak gitu. Gue mau nanya, percuma, guys! Nggak bakal dikasitau. Jawaban most sayingnya dia tuh cuma satu: "percuma saya bilang, pikir dah sendiri!"
Haumm... gila! Sebagai manusia yang nggak sempurna, gue butuh orang lain untuk memperbaiki gue dengan bilang salah gue di mana dong. Tapi dia nggak mau ngebantu. Ckck...

Ohya! Kata sahabat gue, Kevin, waktu dia ngomong tentang cinta, dia cuma menekankan pada dua hal: keikhlasan dan kejujuran. Bener kan?

Keikhlasan untuk berbagi, menerima, melindungi, berkorban, dan bertahan.
Di sini gue mau ngomongin pengorbanan ah. Soalnya kemaren dia pernah nyinggung soal itu dan gue nggak suka caranya dia menuntut sesuatu yang harusnya dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan ataupun diminta. Iya, kan?
Oke, itu tentang pengorbanan.
Kemaren sebuah kalimat nyebelin dari dia adalah: "wah, ndak ada pengorbanannya ni."
Nyebelin! Gue nggak suka! Sama sekali! Tolong deh ya, kalo berkorban nggak ikhlas, mending jangan. Ato mungkin gue yang emang keterlaluan karena nggak pernah melakukan pengorbanan yang cukup berarti buat dia, di mata dia? Hmm...
Baiklah, gue masih harus berpikir keras untuk melakukan sebuah pengorbanan yang bisa dia perhitungkan, jadi besok-besok dia nggak bakal nuntut lagi. Duh, sejak kapan pacaran jadi repot? *sigh #plak

Okesip.

Jadi, sekarang gue harus berusaha introspeksi diri gitu ya? Kenapa nggak dia juga? Salahnya bukan di gue aja deh...
Hal ternyebelin saat ini adalah harus ngeraba-raba punya salah apa tanpa clue sedikit pun.
Kayaknya sih gue tau, tapi... masa iya itu-itu lagi? Kalo gue nggak bisa ngerubah "itu" gimana dong? Toh dia juga punya sifat yang nggak bisa dirubah kan? Kalo gue nggak bisa ngerubah "itu", apa gue harus jadi orang lain demi dia? NO! Kalo "itu" nggak berubah, apa gue sama dia bakal tetep gini-gini aja? Kalo "itu" nggak berubah, apa gue harus terus-terusan ngerasa bersalah dan ngedengerin suara juteknya dia tiap nelfon? *sigh


Lagi demen denger lagu bagus nih! Lagunya Dochi Sadega yang Dalam Kelam.
Kayaknya nih lagu isi hati mantan nih... gue jadi keinget dia terus belakangan ini, semenjak si doi jutek kayak cewek PMS. wkwk
Dosa nggak sih? Salah sih iya. Abisnya... nggak bisa dipaksain juga kan ya? Tapi tetep kok... hati gue masih gue titip sam doi, semoga aja masih dijagain kayak gue yang berusaha jagain hatinya doi. #ciee


Gue sering banget kangen sama dia (pacar), tapi tiap kali dia nelfon trus denger suara juteknya dia, rasanya gue pengen bentak dia sambil bilang, "bisa nggak itu suara nggak sejutek itu? Pengen gue matiin aja nih telfonnya! Lo kira enak ya ngedengerin nada bicara lo yang kayak gitu? Kalo lo gue gituin, lo pasti ngedumel blak-blakan. Iya, kan?!" *inhale-exhale*


Fyuh...
Judulnya sih gue bingung.
Gue bingung harus bersikap gimana sama dia sekarang. Gue baik-baikin, dia tetep jutek. Ntar kalo gue jutekin balik, dia bisa lebih jutek. Parah!
Nah, kalo gue cuekin, nanti salah gue makin banyak dan dia ngomongnya makin hemat. Ih, hebat!
Sekarang gue mesti gimana dong?

Hari ini dia cuman SMS gue sekali (3 SMS), setelah itu nggak ada lagi.
Gue aja sih yang SMSin dia, dan ya iyalah nggak ada balesan.
Gue mau nelfon, males ngedenger suaranya yang jutek itu. Kalo gue ngomong jujur, ntar dia bilang gini, "kenapa? nggak suka? trus sekarang maunya gimana? putus?" ato nggak gini, "kenapa? bosen? Nggak kuat? Mau putus?" #plak *gue tampar dia*

Kalo gue kasar dan nggak mikir, gue pasti udah balikin tuh pertanyaan-pertanyaan ke dia. Iya nggak sih?

Kok gue jadi emosi kalo mikirin dia yang begitu ya? Susah banget dingertiin tuh anak makin ke sininya -__- arrrrgh~ dosa banyak kan jadinya gue gara-gara suudzon ke dia. *elus dada*
Makin dosa lagi nih... gue ngumbar ke-badmood-an gue ke dia yang kayak gitu --"

Aaaaaaaaaannnndddd..............................................gue males! lalalala~~~

Gue hampir kehabisan ide tentang gimana gue mesti bersikap dan berkata-kata di depan tuh makhluk~
Errrr~

Jumat, 14 Juni 2013

Facing Mr. SuperCuek

Hola~ Entah cuek apa gimana... orang yang satu itu... mungkin lebih dingin dari suhu di Antartika. Mungkin. Tapi dia gak dingin, dia cuek. C-U-E-K.

Gimana yaa...
Orang tersulit dihubungi itu... dia.
Ditelpon, kalo gak pas timingnya, pasti gak bakal diangkat.
DiSMS... hmm... kalo dibales, itu namanya keberuntungan banget! Bisa jadi dalam seminggu, di antara belasan SMS, cuman satu ato gak dua yang dibales. See?

Cara menghadapi orang cuek lebih susah daripada menghadapi orang nyebelin.
Dan secuek-cueknya cewek cuek, masih ada cowok yang lebih cuek lagi.

Gimana rasanya kalo cueknya cowok udah tingkat dewa? Krik... krik... krik.....

Dilema bak CherryBelle. Ngadepin cowok super cuek itu bikin pengen berdiri di depan muka dia trus ngomong biar gak dikacangin. Ngadepin cowok cuek yang ngomong secukupnya itu bikin pengen meluk dia, biar sekalian nggak usah ngomong aja tapi kita berinteraksi dalam hening dan merasakan aliran cinta (*Tssah) yang menjalari tubuh masing-masing, dari ujung jempol kaki sampe ke hati trus ubun-ubun. Eaaa~

Untuk cowok cuek, tolong ya... cueknya jangan makin menjadi-jadi.

Selasa, 04 Juni 2013

Better than Love

Seemed impossible, seemed absurd.
I didn't even know you before.
Kept my distance, closing in.
I don't mind caressing you skin.

What did you say, what did you do.
Somehow, I feel I'm enchanted by you.
Flying high on a mountain high.
Suddenly you look as bright as the sky.

Something old, something new,
Something I didn't thought could be true.
Have I forgotten or have I never
felt like this, as light as a feather.

Not interested in love, but I'm attracted to you.
I hope that you feel the same way too.
A little too fast, but way too long.
Though I'm not sure where I belong.

Something old, something new.
Something I didn't thought could be true.
Love's too strong and a bit cliche.
For now this is enough, I've got a long way.

Something old, something new.
Something I didn't thought could be true.
I'm afraid to ask, but I need to know.
Would you want me to stay, or, would you want me to go?


These are my feelings.
I hope you understand....


Kamis, 09 Mei 2013

Puisi

Sebuah untaian puisi bisa begitu indah atau bahkan begitu penuh dengan keambiguan. Sebuah puisi bisa memengaruhi emosi pembacanya, membawa pembacanya menuju kepada atmosfir yang berbeda. Dan setiap koneksi kata-katanya bisa jadi begitu rapuh atau sangat kuat.

Sebuah untaian puisi tak semudah sekilas membacanya untuk memahaminya. Sebuah unataian puisi butuh waktu untuk dipahami dan butuh kesabaran untuk dimengerti dan butuh keinginan untuk disukai dan butuh ketulusan untuk mengintip maknanya.

Tahukah kau? Kau seperti puisi.

Sekali membaca puisi, belum tentu bisa temukan apa yang disiratkan.
Sekali bertemu dan berbicara dengamu, belum tentu bisa mengenalmu walau sempat berjabat tangan dan bertukar nama.

Dua kali membaca puisi, mungkin mulai bisa meraba maknanya.
Tapi, dua kali bertemu denganmu bukan berarti bisa dengan mudah masuki duniamu yang bahkan sulit untuk dipahami.

Tiga kali membaca puisi, bisa saja berhasil ikut terbawa dalam emosinya.
Namun apakah tiga kali pertemuan bisa membuatmu begitu mudah untuk dipahami?

Tahukah kau? Kadang puisi lebih mudah dipahami bila dibandingkan dengan dirimu.

Mungkin kamu adalah sejuta puisi yang butuh berjuta kali lipat pertemuan agar bisa mengenal, mengerti, dan memahamimu.


Di saat aku merasa mengerti kamu, ternyata itu adalah satu dari berjuta bait yang harus ku pahami.

Jika kamu seperti puisi, maka ada aku adalah pembacanya yang tertarik untuk memahamimu. Jika memang begitu adanya, maka izinkan aku untuk memahamimu dengan mengikuti bait-baitmu.

Minggu, 05 Mei 2013

Kamu...

Kadang rasanya udah bisa ngebaca gimana kamu dan mampu ngikutin arahmu. Kadang juga rasanya berhasil ngendaliin mood dan emosimu. Tapi pas kamu lagi bad mood dan tiba-tiba gak mood buat ngapa-ngapain sama sekali, saya ngerasa belum berhasil buat ngertiin kamu.

Di saat yang bersamaan, di saat saya ngerasa belum bisa ngerti kamunya gimana, saya mikir gimana caranya biar bisa paham sama kamu. Di saat yang sama, saya berusaha menjadi penyeimbang mood kamu yang amburadul. Di saat kamu kesel, saya berusaha jadi orang yang mau dan bisa dengerin keluhanmu. Cuman sayangnya, kalo kamu bad mood, kamu jarang mau cerita apa penyebabnya. Dan saya gak bisa paksa kamu buat cerita karena saya percaya kalo setiap orang berhak punya hal privasi yang cuman pengen disimpen sendiri ;)

Di saat mood kamu stabil, saya seneng. Soalnya kamu jadi orang yang gampang diikutin dan itu yang saya suka. Di saat yang bersamaan, saya khawatir nanti kalo-kalo mood kamu belok arah dan kamunya jadi bad mood. Kalo bad mood, kamu susah dikendaliin. Beneran deh~

Dan di samping itu semua... saya tetep sayang sama kamu dan susah buat mau menyingkir dari sisimu di saat kamu lagi bad mood. Di saat kamu lagi bad mood adalah saat di mana saya ngerasa harus tetep di sampingmu. Begitupun di saat kamu down, kecewa, dan merasa kurang puas akan sesuatu. Karena kamu... berarti buat saya :)

Maaf ya kalo kadang usaha saya buat ngertiin kamu itu malah jadi sesuatu yang bikin kamu malah jengkel dan kesel. Namanya juga usaha, iya kan? ;)

Semoga saya makin jago dalam ngebaca sifat kamu, ngikutin jalanmu, dan bisa ngerti kamunya gimana. Aamiin o:)

Teori Pasir

Seorang teman pernah cerita ke saya kalo ayahnya pernah bilang sesuatu tentang bagaimana mengendalikan sebuah hubungan.

"Hubungan itu jangan terlalu dikekang, nanti cepet putus. Kayak pasir. Pasir itu kalo digenggam bakal cepet abisnya, tapi kalo pasir itu hanya sekedar dipegang, maka dia akan diem."

Sabtu, 04 Mei 2013

04.05.2013

Hai! Anggep aja lagi ngomong sama kamu yaa~


Tadi kita ketemu di sekolah. Sebelumnya, subuh itu kamu nelpon. Biasanya saya denger. Tapi ternyata yang tadi subuh nggak.

Seneng deh ketemu :D Walaupun tiap ketemu selalu speechless -_- tapi seneng aja ngeliat kamu yang saya kangenin, hihi :$

Abis itu tumben ya jalan berdampingan lagi biarpun sebentar. 


Trus kamunya ngilang~ Pas saya lagi tidur siang, kamu nelpon. Syukur aja saya kebangun.

Malemnya, saya ngizin keluar sama kamu. Balesanmu kerasa beda. Dugaan saya tentang kamu yang kalah futsal ternyata bener, tapi bukan di situ masalahnya.

Akhirnya, maleman lagi kamu nelpon dan bilang kalo kamu lagi bad mood. Well, kamu selalu gak mau cerita tentang hal-hal yang bikin kamu bad mood. Okay, I appreciate it, Love.

Selebihnya, saya gak bisa tidur dan akhirnya nulis postingan curhat ini *sigh*

Semoga moodnya segera baik yaa. ily!